KEPRIBADIAN DAN PEMBENTUKANNYA


A. KONSEP DAN BENTUK KEPRIBADIAN

Kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari ling­kungan, misalnya, keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir. Menurut Paul Gunadi (2005) pada umumnya terdapat lima penggolongan kepribadian yang sering dikenal dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sebagai berikut.

1. Tipe Sanguin

Seseorang yang termasuk tipe ini memiliki ciri-ciri antara lain: memiliki ba­nyak kekuatan, bersemangat, mempunyai gairah hidup, dapat membuat ling­kungannya gembira dan senang. Akan tetapi, tipe ini pun memiliki kelemahan, antara lain: cenderung impulsif, bertindak sesuai emosinya atau keinginannya. Orang bertipe ini sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungannya dan rangsangan dari luar dirinya, kurang bisa menguasai diri atau penguasaan diri lemah, cenderung mudah jatuh ke dalam percobaan karena godaan dari luar dapat dengan mudah memikatnya dan dia bisa masuk terperosok ke dalamnya. Jadi, orang dengan kepribadian Sanguin sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungannya dan rangsangan dari luar dirinya dan dia kurang bisa menguasai diri atau penguasaan dirinya lemah. Oleh karena itu, kelompok ini perlu ditingkatkan secara terus-menerus perkembangan moral kognitifnya melalui tingkat pertimbangan moralnya sehingga dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain mereka menj adi lebih menggunakan pikirannya daripada menggunakan perasaan/emosinya. Peningkatan moral kognitif akin menjadikan pikiran mereka lebih tajam dan lebih kritis dalam menghadapi persoalan yang berkaitan dengan orang lain.

2. “Pipe Flegmatik

Seseorang yang termasuk tipe ini memiliki ciri antara lain: cenderung tenang,

Bab 2 Kepribadicnr dean Pemhentukannya                                                                                                                                                        11

gej_olak emosinya tidak tampak, misalnya dalam’kondisi sedih atau senang, sehingga turun naik emosinya tidak terlihat secara jelas. Orang bertipe ini cen­derung dapat menguasai dirinya dengan cukup baik dan lebih introspektif, memikirkan ke dalam, dan mampu melihat, menatap, clan memikirkari masalah­masalah yang terjadi di sekitarnya. Mereka seorang pengamat yang kuat, pe­nonton yang tajam, dan pengkritik yang berbobot. Orang bertipe seperti ini inemiliki kelemahan antara lain: ada kecenderungan untuk mengambil mudahnya dan tidak mau susah. Dengan kelemahan ini, mereka kurang mau berkorban” demi orang lain clan cenderung egois. Oleh karena itu, mereka perlu mendapat­kan bimbingan yang mengarahkan pada meningkatnya pertimbangan moralnya guna peningkatan rasa kasih sayang sehingga menjadi orang yang lebih bennurah hati.             –

3. Tipe Melankolik

Seseorang yang termasuk tipe ini memiliki ciri antara lain: terobsesi dengan karyanya yang paling bagus atau paling sempurna, mengerti estetika kcindahan hidup, perasaannya sangat kuat, dan sangat sensitif. Orang yang memiliki tipe ini memiliki kelemahan antara 1ain: sangat mudah dikuasai oleh perasaan clan ccnderung perasaan yang m`endasari hidupnya sehari-hari adalah perasaan yang murung. Oleh karena itu, orang yang bertipe ini tidak mudah untuk terangkat, senang, atau tertawa terbahak-bahak. Pembentukan kepribadian melalui peningkatan pertimbangan moral, kiranya dapat membantu kelompok ini dalam mengatasi perasaannya yang kuat dan sensitivitas yang mereka miliki melalui peningkatan moral kognitifnya. Dengan demikian, kekuatan emosionalnya dapat berkembang secara seimbang dengan perkembangan moral kognitifilya.

4. Tipe Kolerik

Seseorang yang termasuk tipe ini memiliki ciri antara lain: cenderung ber­orientasi pada pekeijaan dan tugas, mempunyai disiplin kerja yang sangat tinggi, mampu melaksanakan tugas dengan setia dan bertanggung jawab atas tugas yang diembannya. Orang yang bertipe ini memiliki kelemahan antara lain: kurarlg mampu merasakan perasaan orang lain, kurang mampu mengembangkan rasa kasihan pada orang yang sedang menderita, clan perasaannya kurang bermain. Kelompok ini perlu ditingkatkan kepekaan sosialnya melalui pengembangan emosional yang seimbang dengan moral kognitifnya sehingga menjadi lebih peka terhadap penderitaan orang lain.

5

. TipeAsctrtif

Seseorang yang tennasuk tipe ini memiliki ciri antara lain: mampu menya­takan pendapat, ide, clan gagasannya secant tegas, kritis, tetapi perasaannya halus sehingga tidak menyakiti perasaan orang lain. Perilaku mereka adalah berjuang

12 Pembentrrkhan Kepribndinri .Artak

,~ mempertahankan hak sendiri, tetapi tidak sampai mengabaikan atau mengancam hak orang lain; melibatkan perasaan dan kepercayaan orang lain sebagai bagian dari interaksi dengan mereka; mengekspresikan perasaan dan kepercayaan sendiri dengan cara yang terbuka, langsung, jujur, clan tepat. Dikarenakan tipe asertif ini adalah tipe yang ideal maka tidak banyak ditemukan 1~ ang kelemahannya. Oleh karena itu, peningkatan pertimbangan moral kogmtifanak didik secara sadar dan terencana diniatkan untuk mencapai model kepribadian tipe asertif ini.

Gregory (2005) menegaskan bahwa kepribadian tidak ada hubungannya dengan sikap berpura-pura clan melagak yang diperolehnya dalam pendidikan keluwesan dan kursus-kursus perbaikan diri,, atau dari melihat clan menj iplak gaya clan gerak biritang-bintang top di TV karena hal tersebut merupakan mode dan keisengan yang datang clan pergi. Kepribadian adalah sebuah kata yang menandakan ciri pembawaan dan pola kelakuan seseorang yang khas bagi pribadi itu sendiri. Kepribadian meliputi tingkah laku, cara berpikir, perasaan, gerak hati, usaha, aksi, tanggapan terhadap kesempatan, tekanan; dan cara sehari­

~ hari dalam berinteraksi dengan orang lain. Jika unsur-unsur kepribadian ini menyatakan diri dalam kombinasi yang berulang-ulang secara khas dan dinamis maka hal demikian dikenal dengan nama gaya kepribadian.

Kepribadian adalah khas bagi setiap pribadi, sedangkan gaya kepribadian bisa dimiliki oleh orang lain yang,juga menunjukkan kombinasi yang berulang­ulang secara khas clan dinamis dari ciri pembawaan clan pola kelakuan yang, sama. Gregory (2005) membagi tipe gaya kepribAdian ke dalam 12 tipe, yaitu sebagai berikut.

1. Kepribadian yang Mudah Menyesuaikan Diri

Seseorang dengan gaya kepribadian yang mudah menyesuaikan diri adalah orang yang memandang hidup ini sebagai perayaan clan setiap harinya sebagai pesta yang berpindah-pindah. Orang tersebut sadar tentang penyesuaian diri dengan orang lain, komunikatif clan bertanggung jawab, ramah, santun, dan memerhatikan perasaan orang lain, jarang sangat agresif clan juga jarang kompetitif secara destruktif. Kepribadian ini suka pada yang modern, peka terhadap apa yang terjadi hari ini clan senang menaruh perhatian pada banyak hal. Dia mudah berternan, bisa menyesuaikan diri di hampir setiap lingkungan, mempunyai ketajaman pandangan untuk yang bersifat dinarnis clan luar bi~sa. Dia adalah orang yang secara terbuka memberikan reaksi pada kehadiran, suasana jiwa, clan kualitas yang diperagakan oleh ot:ing lain. Oleh karena itu, peinbentukan kcpribadian melalui peningkatan perti_ubangan moral ini secara sadar clan terencana diarahkan guna mewujudkan tipe gaya kepribadian seseorang yang mudah menyesuaikan diri ini.

Bab 2 Kepribadian dan Pembentukannya                                                                                   13

2. , Kepribadian yang Berambisi

Seseorang dengan gaya kepribadian yang berambisi adalah orang yang memang benar-benar penuh ambisi terhadap semua hal. Dia menyambut balk tantangan clan berkompetisi dengan senang hati clan sengaja. Kadang-kadang secara ter-buka dia menunjukkan sikap agresi£ la cenderung bersikap hati-hati apabila bergerak dan menyadari tujuannya ke arah cita-cita yang ditetapkannya bagi dirinya sendiri. Dalam hal ini, pembentukan kepribadian melalui pbingkatan pertimbangan moral berusaha mengendalikan sikap agresivitas yang berlebihan agar mereka lebih mampu mengendalikan dirinya dengan mengembangkan cara berpikir moralitasnya sehingga perilakunya tidak mengganggu kepentingan orang lain karena dengan meningkatnya pertimbangan moral seseorang la akan ber­usaha minimal tidak mengganggu kepentingan orang lain. Bahkan jika bisa, ia akan berusaha agar keberadaannya bermanfaat clan mendatangkan keuntungan bagi orang lain (siapa pun clan di manapun adanya). Oleh karena itu, pemben­tukan kepribadian melalui peningkatan pertimbangan moral perlu diterapkan dalam pembentukan kepribadian anak.

3. Kepribadian yang Memengaruhi

Seseorang dengan gaya kepribadian yang memengaruhi-adalah orang yang ter-organisasi dan berpengetahuan cukup yang memancarkan kepercayaan, dedikasi, dan berdikari. Kepribadian ini mendekati setiap tugas dalam hidup ini dengan cara yang saksama, menyeluruh dan tuntas, sistematis, clan efisien, Yembentukan kepribadian melalui peningkatan pertimbangan moral diupayakan mengarali pada tercapainya cara berpikir sistematis dalam hal moral sehingga terwujud nilai-nilai kepribadian yang searah dengan nilai kepribadian ini.

4. Kepribadian yang Berprestasi

Seseorang dengan gaya kepribadian berprestasi adalah orang yang mealg­hendaki kesempatan untuk bermain dengan balk dan cemerlang, jikamungkin untuk mempesonakan yang lain agar mendapatkan sambutan balk, kasih sayang, clan tepuk tangan orang lain, dalam hal ini berarti menerima kehonnatan. Kepribadian yang berprestasi ini memandang hidup dengan selera kuat unwk melakukan segala hal yang menarik baginya. Pembentukan kepribadian melahii peningkatan pertimbangan moral diusahakan dapat membanhi kelompok tipe gaya kepribadian ini dengan cara melengkapi cara berpikir moraluya agar kebutuhan untuk memperoleh atau menerima kehormatan yang diharapnya mempertimbangkan kepentingan dan kebutuhan orang lain clan tidak merugikan orang lain. Atau bahkan dapat memb’antu orang lain secara Universal. Dengan dernikian, peningkatan periimbangan moral yang dimilikinya dapat mengendalikan perilaku yang menarikbaginya.

,

14                                                                                           Pembentukknn Kepribar(irin Annk

,

5. Kepribadian yang Idealistis

Seseorang dengan gaya kepribadian yang idealistis adalah orang yang melihat hidup ini dengan dua cara, yakni hidup sebagaimana nyata adanya dan hidup sebagaimana seharusnya menurut kepercayaannya. Kepribadian ini memandang dirinya sendiri seperti dia memandang hidup. Pada dirinya sendiri yang terdiri dari darah dan daging, lengkap dengan kompleksitas kekhawatiran, kesalahan dan perasaan, di samping itu terdapat gambaran dirinya sendiri seperti yang dicita-citakannya untuk memenuhi ide-idenya. Pembentukan kepribadian melalui pertingkatan peitimbangan moral akan melengkapi cara berpikir kelompok tipe ini dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan ideal yang dikehendakinya.

6. Kepribadian yang Sabar

Seseorang dengan ga a kepribadian yang sabar adalah orang yang memang sabar (hampir tak pernaberputus asa), ramah tamah, dan rendah hati. Dia jarang sekali tinggi hati atau kasar. Dia menghargai kepercayaan, kebenaran, dan selalu penuh harapan. Pembentukan kepribadian melalui peningkatan pertimbangan moral akan dapat membantu kelompok tipe ini agar keteguhan dan kesabaramrya nzemiliki landasan berpikir moral sehingga menjadi lebih bennoral dalam menetapkan perilaku yang akan diambilnya. Dengan demikian, tipe gaya kepribadian ini menjadi lebih bernuansa moral yang memerhatikan nilai-nilai kemanusiaan universal.

7.. Kepribadian yang Mendahului .

Seseorang dengan gaya kepribadian yang mendahului adalah orang yang _ men-junjung tinggi kualitas dan mengerti kualitas. Kepribadian yang mendahului ini yakin bahwa dia adalah seorang manusia yang mempunyai syarat yang cukup clan akan berhasil dalam melaksanakan tugas apa pun yang mereka terima. Pembentukan kepribadian melalui peningkatan pertimbangan moral akan dapat membantu kelompok tipe gaya kepribadian ini dengan cara membekali cara berpikit, moral yang harus dimilikinya sehingga mereka tidak berkehendak merugikan orang lain dalam upaya mewujudkan idealisme untuk mendahului orang lain.

Seseorang dengan gaya kepribadian yang perseptif adalah orang yang cepat tanggap terhadap rasa sakit dan kekurangan, bukan hanya yang dialaminya sendiri, tetapijuga yang dialami oleh orang lain, sekalipun orang itu asing baginya. Kepribadian yang perseptif biasanya adalah orang yang bersahaja, jujur, dan menyenangkan, ramah tamah clan tanggap, setia dan adil, seorang teman sejati yang persahabatannya tahan lama. Pembentukan kepribadian nlelalui pening­katan pertimbangan moral MI diharapkan dapat membantu terbentuknya tipe

8. Keprioadian yang Perseptif

M

Bnb 2 Kepribndian dun Aentbennrkannyn                                                                                  15

gaya kepribadian ini karena moralitas yang tinggi memiliki kepekaan yang tinggi terhadap rasa sakit dan penderitaan orang lain.

9., Kepribadian yang Peka

Seseorang Oengan gaya kepribadian yang peka adalah orang yang suka termenung, berintrospeksi, dan sangat peka terhadap suasana jiwa dan sifat­sifatnya sendiri, perasaan, dan pikirannya. Dia pun memiliki kepekaan terhadap suasana jiwa dan sifat-sifai serta perasaan dan pikiran orang lain, dan pada waktu yang sama dia,bersifat ingin tahu dan sangat tajam mengamati segala yang terjadi di dunia sekitarnya. Pembentukan kepribadian melalui peningkatan pertimbangan moral diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas clan kuantitas kelompok tipe gaya kepribadian ini, karena mereka yang tingkat pertimbangan moralnya tinggi adalah memiliki kepekaan yang tinggi terhadap rasa sakit dan penderitaan orang lain.

10. Kepribadian yang Berketetapan

Seseorang dengan gaya kepribadian yang berketetapan adalah orang yang menekankan pada tiga hal sebagai landasan dari gaya kepribadiannya, yaitu kebenaran, tanggung jawab, dan kehormatan. Dalam segala hal dia berusaha untuk melakukan apa yang benar, bertanggung jawab, dengan demikian pantas mendapat kehormatan dari keluarga, teman, dan hubungan lainnya. Pembentukan kepribadian melalui peningkatan pertimbangan moral pada hakikatnyF, adalah sejalan dengan tipe gaya kepribadian ini karena tingkat pertimbangan moral yang tinggi menghendaki lahirnya para lulusan yang,memiliki nilai atau sikap yang berketetapan hati luhur, pembela kebenaran moral, bertanggung jawab atas kesejahteraan bersama, serta demi kehormatan kemanusiaan secara universal.

11. Kepribadian yang Ulet

Seseorang dengan gaya kepribadian yang ulet adalah orang yang memandang hidup sebagai suatu perjalanan, atau suatu ziarah. Setiap hari dia melangkah maju di atas jalan hidup ini dengan harapan besar mampu mewujudkan harapan dan cita-cit anya, sambil menguatkan keyakinannya. Tipe gaya kepribadian yang ulet ini dapat-didukung dengan tingkat pertimbangan moral yang tinggi agar dalam perjalanan hidup menuju impian-impiannya menjadi lebih peduli pada kebutuhan dan kepentingan orang lain. Dengan cara melengkapi cara berpikir, moralnya ke arah penderitaan orang lain, dapat kiranya mengurangi beban hidup­nya sendiri.

12. Kepribadian yang B_erhati-hati

Seseorang dengan gaya kepribadian yang berhati-hati adalah orang yang

ter( keN

, a& me tep

R pet

tip lrei lai­sc<

pa 1.

ist

Oil

di: (p

m m

Z, a.

c

16 Pembentukkan Kepribadian Anak

terorganisasi, teliti, berhati-hati, tuntas, dan senantiasa mencoba menunaikan kewajibannya secara sosial dalam pekerjaan sebagai warga negara atau yang ada hubungannya dengan masalah-masalah keuangan. Dia menghendaki agar melakukan segalanya tepat waktu, tepat prosedur, tepat proses, tepat sasaran, tepat hasil dengan predikat baik. Pembentukan kepribadian melalui peningkatan pertimbangan moral pada hakikatnya sejalan dengan nilai-nilai yang”dimiliki oleh tipe gaya kepribadian ini karena tingkat pertimbangan moral yang tinggi meng­hendaki ketepatan moralitas dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, dengan berlandas pada prinsip kemerdekaan, kesamaan, clan saling terima secara universal.

Selanjutnya, Koswara (2005) menegaskan bahwa definisi kepribadian da­pat dikategorikan menj adi dua pengertian, yaitu sebagai berikut.

1. Menurut Pengertian Sehari-hari­

Menurut pengertian sehari-hari, kepribadian (personality) adalah suatu istilah yang mengacu pada gambaran-gambaran sosial tertentu yang diterima oleh individu clan kelompoknya atau masyarakatnya, ketnudian individu tersebut diharapkan •bertingkah laku berdasarkan atau sesuai dengan gambaran sosial (peran) yang diterimanya itu.

Di samping itu, kept7badian juga sering diartikan atau dihubungkan derigan ciri tertentu yang menonjol pada din” individu. Oleh karena itu, defmisi kepnibadian menurut pengertian sehari-hari menunjuk pada bagaimana individu tampil atau menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya.

2. Menurut Psikologi

a. George Kelly (2005) menyatakan bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya.

b. Gordon Aliport (2005) menyatakan bahwa kepribadian merupakan suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas.

c. Sigmund Freud (2005) menyatakan bahwa kepribadian merupakan suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem, yakni id, ego, dan super-ego, sedangkan tingkah laku tidak lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga unsur dalam sistem kepribadian tersebut: Dalam hal iui, Id (das-es) merupakan sistem kepribadian yang paling da­sar, sistem yang di dalamnya terdapat naluri-naluri bawaan. Id adalah sistern yang bertindak sebagai penyedia atau penyalur energi yAng dibutuhkan oleh sistem-sistem tersebut untuk operasi atau kegiatan yang dilakukannya. Ego adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada dunia objek dari kenyataan dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan. Super-ego adalah sistem kepribadian yang berisi nilai

Bab 2 Kepribadinn dan Pembentukannyn                                                                                      17

dan aturan yang sifatnya evaluatif (menyangkut baik dan buruk). Berdasar­kan teori ini pembentukan kepribadian melalui peningkatan pertimbangan moral adalah upaya yang mengacu pada peningkatan kekuatan ego dalam menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan yang dihadapi dengan melengkapi cara berpikir moral yang memadai sehingga dapat menunjang keputusan seseorang ke arah yang lebih bermoral.

Menurut Browner (2005) kepribadian adalah corak tingkah laku sosial, corak ketakutan,.dorongan dan keinginap, corak gerak-gerik, opini, dan sikap. Tingkah laku itu kadang-kadang kelihatan (overt) dan kadang-kadang tidak kelihatan (covert). Boleh dikatakan tingkah laku rrianusia ad~lah gerak-gerik suatu badan sehingga kepribadian dapat dikatakan corak gerak-gerik badan manusia. Tingkah laku yang disebut kepribadian bersifat sadar dan tidak sadar. Hal itu dapat dilihat dari sudut diri manusia dan dari sudut lingkungannya.

Unsur-unsur yang terdapat dalam tingkah laku manusia itu antara lain sebagai berikut.

1. Konflik

Peranan identitas dan kepribadian melekat pada badan kita. Hal itu bisa menimbulkan kesulitan. Dalam analisis konflik dijelaskan bagaimana kepribadi­an seseorang berkembang dalam hubungannya dengan lingkungan. Kepriba­dian seseorang terjadi dalam pergaulan dan percakapan. Hal itu disebut juga hubungan antarmanusia. Setiap titik potong dari hubungan itu disebut suatu status dan berhubungan dengan perasaan. Pernbentukan keprib4dian melalui pening­katan pertimbangan moral adalah upaya peningkatan moral seseorang sehingga membentuk kepribadiannya. Peningkatan pertimbangan moral itu dilakukan dengan penerapan diskusi dilema moral. Pada dasaniya diskusi dilema moral dikembangkan berdasarkan konflik moral, baik yang diangkat dari peristiwa nyata maupun dilema moral yang direkayasa. Dengan demikian, penerapan strategi diskusi dilema moral yang dikembangkan dalam pembelajaran moral adalah sejalan dan didukung oleh teori Browner ini.

2. Bakat

Kepribadian adalah bentuk suatu badan. Bakat kepribadian mernpunyai segi jasmaniah yang sering disebut temperamen. Inteligensi juga berdasar pada perkembangan badan (otak), dan sering dapat dilihat bahwa orang dengan badan yang sehat juga mempunyai kepandaian yang besar. Temperamen seseorang sebaiknya juga dilengkapi dengan kemampuan cara heipikir moral dengan tingkat pertimbangan moral yang tinggi sehingga kepandaian yang dimiliki juga sejajar dengan perilaku moralitasnya yang berkUalitas tinggi. 01eh karena itu, pemben­tukan kepribadian melalui peningkatan pertimbangan moral ini perlu dimiliki oleh

18 Penibentcskkan Kepribadinn Annk

C

kelompok orang yang kepribadiannya lahir dari dukungan bentuk badan yang ideal ini.

3. Adaptasi Sosial

Orang yang kepribadiannya cukup fleksibel bisa menyesuaikan diri jika dalam lingkungannya ada orang yang melawan, memfitnah, mengejek, atau memusuhi. Dengan demikian, melalui respons yang ditunjukkan oleh seseorang atas stimulus yang diterimanya, maka akan tampak perilaku atau kepribadiannya. Perlu disadari bahwa dalam suasana aman (tanpa adanya tantangan), terkadang kepribadian orang tidak tampak aslinya. Selanjutnya, ketika seseorang dihadapkan pada suatu tantangan seperti fitnahan, ejekan, ajakan bermusuhan, dan sejenisnya, maka kepribadian yang sebenarnya ada padanya akan muncul menjadi sesuatu yang dapat dilihat dan dibaca orang. Oleh karena itu, pemben­tukan kepribadian melalui peningkatan pertimbangan moral ini dapat membantu seseorang dalam menetapkan respons yang bermoral ketika mereka menghadapi tantangan yang dihadapi dengan cara berpikir moral yang dilandasi oleh pertim­bangan moral yang be~r clan berkualitas baik.

g. FAKTOR< YALVG MEMENGARUHI KEPRIBADIAN

Faktor-faktc~r yang dapat memengaruhi kepribadian seseorang dapat dike­lompokkan dalam dua faktor, yaitu faktor internal clan eksternal.

1. FA or Internal

Fakttr internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri orang itu sendiri. FaktQr ini~rnal ini biasanya merupakan faktor genetis atau bawaan. Faktor genetis maksudnya adalah faktor yang berupa bawaan sejak lahir clan merupakan penga­ruh keturunan dari salah satu sifat yang dimiliki salah satu dari kedua orang tuanya atau bisa jadi gabungan atau kombinasi dari sifat kedua orang tuanya. Oleh karena itu, sering kita mendengar istilah “buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”. Misalnya, sifat mudah marah yang dimiliki seorang ayah bukan tidak rnungkin akan menurun pula pada anaknya.

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar orang tersebut. Faktor eksternal ini biasanya merupakan pengaruh yang berasal dari lingkungan sese­orang mu)~ai dari-lingkungan terkecilnya, yakni keluarga, ternan, tetangga, sampai dengan pengaruh dari berbagai media audiovisual seperti TV dan VCD, atau media cetak seperti koran, majalah, dan lain sebagainya.

Lingkungan keluarga, tempat seorang anak tumbuh dan berkembang akan sangat berpengaruh terhadap kepribadian seorang anak. Terutama dari cara para orang tua mendidik clan membesarkan anaknya. Sejak lama peran sebagai

Bab 2 Kepribadian dan Pemberztuknrinya                                                                                   19

orang tua sering kali tanpa dibarengi pemahaman mendalam tentang kepribadian. Akibatnya, mayoritas orang tua hanya bisa mencari kambing hitam -bahwa si anaklah yang sebenarnya tidak beres- ketika terjadi hal-hal negatif mengenai perilaku keseharian anaknya. Seorang anak memiliki perilaku yang demikian sesungguhnya karena meniru cara berpikir dan perbuatan yang sengaja atau tidak sengaja dilakukan oleh orang tua mereka. Contoh, orang tua sering

memerintahkan anak-anaknya, tolong kalau nanti ada telepon, bilang ayah­ibu sedang tidak ada di rumah atau keluar rumah, karena ayah-ibu akan

tidur. Peristiwa ini adalah suatu pendidikan kepada anak bahwa berbohong boleh atau halal dilakukan. Akibatnya, anak juga melakukan perilaku bohong kepada orang lain termasuk kepada orang tua yang telah mencontohinya. Jika perbuatan bohong yang dilakukan anak memperoleh kepuasan atau kenikmatan, . minimal tidak memperoleh hukuman, maka perbuatan bohong itu akan dikembangkan lebih lanjut oleh anak tersebut. Bahkan mungkin saja daya bohong itu akan menjadi suatu kesenangan clan dapat juga menjadi suatu keahlian yang lama-kelamaan menjadi kepribadiannya. Demikian juga perilaku positif dan negatif lain yang terpraktikkan di lingkungan rumah.

Menurut Levine (2005) menjadi orang tua sesungguhnya merupakan proses yang dinamis. Situasi keluarga acapkali berubah. Tidak ada yang bersifat mekanis dalam proses tersebut. Akan tetapi, dengan memahami bahwa kepribadian mengaktifkan energi, mengembangkan langkah demi langkah, serta menyadari implikasi setiap langkah terhadap diri anak, para orang tua secara perlahan akan mampu memupuk rasa percaya diri pada diri anak.

Se lanjutnya, Levine (2005) menegaskan bahwa kepribadian orang tua akan berpengaruh terhadap cara orang tua tersebut dalam mendidik clan membesarkan anaknya yang pada gilirannya juga akan berpengaruh terhadap kepribadian si anak tersebut. Ada sembilan tipe kepribadian orang tua dalam membesarkan anaknya yang juga dapat berpengaruh pada kepribadian si anak, yaitu sebagai berikut.

1. Penasihat moral, terlalu menekankan pada perincian, analisis, clan moral. 2. Penolong, terlalu mengutamakan kebutuhan anak dengan mengabaikan akibat dari tindakan si anak.

3. Pengatur, sclalu ingin bekerja sama dengan si anak dan menciptakan tugas­

tugas yang akan membantu memperbaiki keadaan.

4. Pemimpi, selalu berupaya untuk berhubungan secara emosional dengan

anak-anak dalam setiap keadaan clan mencari solusi kreatifbersama-sama. 5. Pengamat, selalu mencari sudut pandang yang menyeluruh, berupaya

mengutamakan objektivitas clan perspektif

6. Pcncemas, selalu melakukan tanya jawab mental dan terus bertairya-tanya,

ragu-ragu, dan memiliki gambaran terburuk sampai mereka yakin bahwa

anak mereka benar-benar memahami situasi.

20

Pembertttrkkan Kepribadian Anak

7. Penghibur, selalu menerapkan gaya yang lebih santai.

8. Pelindung, cenderung untuk mengambil alih tanggung jawab clan bersikap

melindungi, berteriak pada si anak tetapi kemudian melindunginya dari

ancaman yang datang.

9. Pendamai, dipengaruhi kepribadian mereka yang selalu menghindar dari konflik.

Berdasarkan sembilan tipe kepribadian orang tua dalam mendidik anaknya secara moralitas, maka tampaknya hanya tiga tipe yang sejalan dengan pembentu­kan kepribadian melalui peningkatan pertimbangan moral, yaitu tipe pengatur, pengamat, clan pencemas. Pembentukan kepribadiarrmelalui peningkatan pertim­bangan moral menghendaki orang tua di lingkungan rumah tangga bertindak sebagai teman yang dapat bekerja sama dengan anak-anak mereka dalam me­nyelesaikan segala tugas guna memperbaiki keadaan sosial maupun fisik. Kepribadian orang tua sebagai pengamat yang menggunakan sudut pandang menyeluruh clan objektif akan membantu cara berpikir moral anak ke arah yang luas, objektif, clan rrmenyeluruh. Demikian juga, kepribadian orang tua tipe pencemas yang selalu membawa anak untuk berdiskusi, bertanya jawab, dan mengajak berpikir dalam menghadapi tantangan dan konflik adalah sejalan dengan teori perkembangan moral kognitif dalam peningkatan pertimbangan moral guna pembentukan kepribadian yang balk bagi anak-anak.

C. STPUKTUR KEPRIBADIAN DAN TINDAKAN MORAL

Robert Hogan dan Catherina Bush (dalam Kurtines clan Gerwitz, 1984) rnenyatakan bahwa j ika akan mengkaj i tentang tindakan moral maka dapat dilihat dari variabel penafsiran diri. Tindakan moral sebagai penafsiran diri itu selanjutnya dapat dilihat dari segi struktur kepribadian, perkembangan kepribadian, masalah konformitas, perbedaan individual dalam kepribadian clan perilaku moral. Oleh karena itu, bagian ini akan rnenempatkan perkembangan moral dalam konteks perkembangan pribadi sebagai suatu keseluruhan. Struktur kepribadian dikonseptualisasikan dalam pengertian tiga komponen, yaitu suatu gambaran diri (self image), berbagai gambaran yang diharapkan orang lain tentang seseorang, dan berbagai perilaku yang dimaksudkan seseorang untuk menjelaskan kepada orang lain.

Menurut Hogan dan Bush (1984) ada dua sudut pandangan teoretis yang secara luas menguasai pandangan tentang moral dewasa ini, yaitu pandangan psikologi perkembangan kognitif dan teori pembelajaran sosial yang modem. Dengan caranya masing-masing, kedua pandangan itu telah berjasa mengem­bangkan teorinya berkenaan dengan berbagai aspek proses kemoralan (mo­ralitas).

Pada awalnya, teori pembelajaran sosial maupun psikologi perkembangan

Bab 2 Kepribadian dan Pembentukannya                                                                                    21

kognitif tidak dimasukkan sebagai suatu teori kepribadian, tetapi akhir,akhir ini kedua teori tersebut menjadi bagian dari teori kepribadian. Namun demikian, upaya melihat masalah perkembangan moral dari sudut pandang teori kepribadian yang sistematis merupakan suatu upaya yang unik. Bagairnana masalah perkem­bangan moral dapat dipahami dari sudut pandang teori kepribadian? Untuk men­jawab persoalan ini, uraian berikut akan dibagi dalam empat bagian, yaitu sebagai berikut.

. Struktur Kepribadian

Pangkal tolak masalah kepribadian dapat dikaji melalui teori yang bersifat evolusionalistik dan interaksionalisme simbolis. McDougall (dalam Kurtines dan Gerwitz, 1984) seorang pengkaji teori evolusionalistik memandang tindakan manusia sebagai tindakan yang muncul dari seperangkat impuls biologis yang mempunyai ciri-ciri tersendiri, sedangkan impuls-impuls biologis tersebut merupakan hasil seleksi alami. Akan tetapi, begitu impuls alami dinyatakan, terlepaslah la dari asalnya yang alami itu, dan pada saat itu juga ia diorganisasi secara hierarkis dalam tatanan konsep diri. Jadi, walaupun semula merupakan perilaku yang terorganisasi dalam tatanan biologis, namun impuls-impuls itu segera dikendalikan oleh pengaruh-pengaruh sosial. Dalam hal ini dapat dilihat bagai­maria manusia berhasil mengembangkan kebudayaannya melalui proses evolusi. Dalam proses pengembangan budaya secara evolusi tersebut manusia berhasil meletakkan moralitas sebagai alat pengatur kehidupan berkelompok yang diinginkan bersama. Bahkan moralitas bukan saja berfungsi secara sosial-stcuk­tural, tetapi juga merupakan suatu kebutuhan insani yang sangat besar pengaruh­nya. Mengapa demikian? Karena kecenderungan batiniah manusia sangat me­nentukan kepribadian manusia serta perbuatan sosialnya.

Kebutuhan manusia tentang pergaulan dan saling berhubungan secara teratur memerlukan moralitas agar terbina keteraturan. Oleh karena itu, moralitas hendaknya dilihat dari dua segi, yaitu dari sudut pandangan sosial (moralitas tampil sebagai suatu aturan yang memverifikasi hak dan kewajiban) dan dari sudut pandangan individual, moralitas dirumuskan secara fenomenohgis (orien­tasi pribadi secara subjektif terhadap aturan dan nilai yang berlaku daiam lingkup budayanya). Selanjutnya, strukturkepribadian dapat dikonseptualisasikan sebagai komponen yang tetap (fixed) maupun sebagai komponen variabel.

2. Perkembangan Kepribadian

Perkembangan pribadi itu berlangsung melalui tiga fase, _yaitu sebagai berikut.

a. Mulai perkembangan itu sampai dengan sekitar usia 5 tahunan, merupakan fase yang banyak berkaitan dengan kewibawaan dan kekuasaan. Pada fase ini inti dari penghargaan diri dan sikap mengenai atuian yang diter­

22                                                                                           Pernbennekkan Kepribadian Annk

jemahkan dalam bentuk gambaran diri adalah diarahkan kepada apa yang diharapkan oleh tokoh-tokoh terdekat yang menguasainya. ,

b. Masa anak-anak clan masa remaja, merupakan masa yang sebagian besar diarahkan pada persoalan hubungan dengan teman sebayanya. Pada masa ini mereka mengembangkan penghargaannya terhadap harapan orang lain serta menaruh perhatian terhadap perilaku jujur, keadilan, clan sikap bersedia membalas jasa orang lain. Jika pada fase pertama anak pada dasarnya lebih peduli terhadap gambaran dirinya sendiri sebagaimana diarahkan oleh orang tuanya, maka pada fase kedua anak harus menyesuaikan gambaran dirinya dengan rekan sebayanya.

c. Fase orang mulai memasuki dunia kerja dan mulai berkeluarga. Persoalan­persoalan pada masa lalu (belajar bergaul dengan rekan sebaya clan dengan mereka yang berkuasa) berpadu dengan persoalan identitas diri. Pada masa ini seseorang menentukan corak kepribadian yang diharapkan dengan cara mengembangkan suatu “pola umum gambaran dirinya”, mereka mulai merin­tis tujuan hidupnya serta merencanakan strategi yang akan ditempuhnya dalam mengejar tujuan hidup yang dipilihnya.

Perkembangan kepribadian dilihat melalui gambaran diri seseorang, metode interaksi, dan pandangan serta harapan terhadap orang lain adalah berkaitan dengan perilaku sosialnya yang terbentuk melalui riwayat perkembangan hidupnya. Riwayat hidup tersebut dapat dikonseptualisasikan sebagai evolusi melalui tiga fase. Fase pertama, orang hams mengakui kewibawaan, fase kedua, orang mengatur bagaimana ia harus bergaul dengan teman sebayanya, clan fase ketiga, orang harus memantapkan suatu gaya hidup tertentu yang hendak direalisasikannya.

Seperangkat transaksi psikososial sebenarnya merupakan suatu hal yang sangat kompleks. Kekompleksitasan itu dapat dipahami melalui: 1) ketiga fase perkembangan mempunyai implikasi terhadap moralitas. Pada fase pertama dapat dilihat sebagai perkembangan superego, fase kedua belajar mengadopsi perspektif orang lain secara umum, dan fase ketiga, sebagai fase yang berhu­hungan dengan masalah otonomi: 2) komponen-komponen utama struktur kepribadian yang meliputi gambaran diri, strategi penafsiran din, dan kelompok referensi yang diinternalisasi, sebenarnya merupakan skema-skema kognitif; 3) pandangan tentang kepribadian ini menegaskan bahwa pcrilaku lahir (penampakan), hendaknya tidak dilihat dari nilai penampakannya karena pertimbangan moral yang disampaikan seseorang merupakan bagian dari penafsiran diri dalam usaha tnenjelaskan kepada orang lain, yaitu pandangan bagaimana yang la inginkan. Hal ini dikarenakan pula struktur penalaraii moral tnenipakan cennin isomorfisme antara orgauisasi jiwa dengan hasil verbal van­ada pada diri seseorang yang diproycksikan pada gambaran dirinya; 4) sebagai hasil dari riwayat perkembangan dan pembelajaran sosialnya, setiap orang dapat

Bab 2 Kepribndinri don Penibentuknnqyu                                                                                   23

menunjukkan perbedaan dalam kedudukan standar moral yang dijadikan arah orientasinya.

3. Masalah Konformitas

Jika dihubungkan dengan masalah konformitas maka mereka yang berbuat sama dengan aturan sosial yang umum berlaku, adalah dianggap sebagai orang yang tidak terlalu cerdas. Mereka yang menuruti saja harapan-harapan atasannya, berkemungkinan melakukan kejahatan terhadap orang yang tidak dikenalnya. Konformitas itu sebenarnya menyerupai imoralitas dan tidak konformitas dengan kedewasaan. Sebaliknya, mereka yang menolak konformitas dipandang sebagai yang mampu menyesuaikan diri, berinteligensi, cermat dalam persepsinya tentang realitas, dan tidak mau mengikuti orang lain. Dalam pandangan Kohlberg tentang perkembangan penalaran moral ditemukan beberapa hal pokok yang sama. Konsep otonomi digunakan untuk menjelaskan kasus-kasus yang menunjukkan orang melakukan perbuatan yang mungkin oleh beberapa orang disebut sebagai perbuatan moral. Dalam hal ini, seringkali ketidakpatuhan seseorang dipandang sebagai contoh perbuatan yang otonom. Perilaku otonom itu merupakan suatu corak yang khas, konformitasnya merujuk pada sekelompok evaluator yang internal. Oleh karena itu, menurut pandangan ini kata otonomi hendaknya dibagi menjadi dua pengertian, yaitu pengertian umum yang merujuk kepada otonomi dalam berkonformitas terhadap norma-norma suatu kelompok referensi, dan otonomi dalam pengertian Kohlberg, yang merujuk pada tidak berkonformitas (dalam lingkungan intelektual clan artistik).

4. Perbedaan Individual, Kepribadian, dan Perilaku Moral

Banyak perbedaan yang didapat pada diri seseorang. Dalam pandangan ini perbedaan dilihat dari segi corak pengalaman yang dialami, perbedaan dalam fenomenologi moralnya, kelompok referensinya, perbedaan dalam cara dan corak penafsiran dirinya. Teori tentang tipe kepribadian dapat dikaji guna pendeskripsian pembentukan kepribadian berdasarkan psikososial. Teori tipe kepribadian sebagaimana dikembangkan oleh Holland (dalam Kutines clan Gerwitz, 1984) menegaskan bahwa seluruh ranah kepribadian dapat diklasifikasi ke dalam enam tipe yang sangat menonjol. Pertama tipe realistis, yaitu mereka yang bersikap praktis, bebas, introvert, dan berorientasi teknis, misalnya para insinyur dan ahli bedah. Kedua tipe henyelidik atau investigatif, bersifat teoretis, bebas, introvert, dan berorientasi ;Imiah, misalnya para peneliti sains. Ketiga tipe artistik, bersifat prinsipal (berp,~~,.ang pada prinsip), kreatif, tidak konformis, dan suka membantu, misalnya pau) sIlosof dan seniman. Keempat tipe sosial, bersifat idealis, ekstrovert dan suka menolong, misalnya punggawa gereja dan para pekerja sosial. Kelinia tipe perintis atau interprise, bersifat ekstrovert, beorientasi pada status dan berhaluan politik, misalnya para ahli hukum clan

1 `

24                                                                                                                                          Pembentukkan Kepribadian Anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s