Tindik Telinga Lebih Rentan Komplikasi Dibanding Sunat


imgLos Angeles, Bagi kelompok yang menentang, sunat pada anak laki-laki dianggap sebagai mutilasi yang penuh risiko. Namun dalam sebuah penelitian, risiko komplikasi saat disunat justru lebih kecil dibandingkan saat anak perempuan ditindik telinganya.

Sejumlah aktivis penentang sunat di San Francisco sering mengklaim bahwa sunat pada laki-laki berisiko memicu sakit yang luar biasa, gangguan saraf dan kerusakan pada jaringan alami tubuh yang fungsional. Dalam beberapa kasus, sunat bahkan bisa memicu kematian.

Namun sebuah penelitian di University of Washington mengungkap fakta lain, bahwa risiko komplikasi pada sunat hanya berkisar antara 0,2 hingga 0,6 persen. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah perdarahan, disusul dengan infeksi ringan yang memicu pembengkakan.

Sunat justru bermanfaat karena bisa mengurangi risiko penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan beberapa Infeksi Menular Seksual (IMS) lainnya. American Academy of Paediatrics juga mengakuinya, namun tidak mewajibkannya karena IMS juga bisa dicegah dengan memakai kondom.

Dari aspek psikologis, trauma saat disunat juga belum terbukti memberi pengaruh yang signifikan bagi pertumbuhan mental anak. Dugaan sebelumnya adalah, trauma akibat rasa sakit yang ditimbulkan saat disunat bisa mengganggu pertumbuhan kejiwaan pria.

Jika dilihat dari tinggi-rendahnya risiko komplikasi, tindik telinga pada anak perempuan justru lebih berisiko. Amitai Etzioni PhD, sosiolog dari University of California mengungkap bahwa 20 persen anak perempuan mengalami komplikasi ringan dan 3 persen komplikasi berat saat ditindik.

Komplikasi yang sering terjadi saat ditindik antara lain daun telinga membengkak dan kulit di sekitarnya jadi kering. Sedangkan komplikasi berat seperti dikutip dari CNN, Kamis (16/6/2011), contohnya infeksi, pembentukan kista, luka yang melebar dan kadang-kadang juga trauma.

Berdasarkan perbandingan tinggi-rendahnya risiko komplikasi, Etzioni berpendapat jika sunat dilarang maka tindik telinga juga sebaiknya dilarang. Larangan bagi keduanya tentu sulit dilakukan, sebab dalam budaya tertentu sunat dan tindik telinga adalah bagian dari tradisi.
sumber: detikhealth.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s